MOJOKERTO majapahitpos.com – 10 juli 2026 Tragedi kematian seorang pria paruh baya bernama “A” (60 th) asal Karangnongko, Kota Mojokerto, di area jalan menuju Lapangan Surodinawan menimbulkan tanda tanya besar di kalangan warga. Almarhum ditemukan meninggal dunia dalam kondisi tergeletak setelah sempat berduaan dengan seorang wanita muda bernama R (20 th ), warga Blooto.
Kasus ini kembali membuka sorotan tajam terhadap kondisi Lapangan Surodinawan yang selama ini digadang-gadang sebagai ruang publik “steril”, namun dinilai minim penerangan dan rawan dijadikan tempat aktivitas terlarang.
Berdasarkan keterangan saksi dan kronologi yang dihimpun, kejadian bermula ketika “A” bertemu dengan “R” di area menuju lapangan yang sepi pada Kamis 9 juli 2026 . Karena minimnya lampu penerangan di sejumlah titik lapangan, pertemuan keduanya luput dari pantauan petugas keamanan maupun pengunjung lain.
Informasi yang beredar di tengah masyarakat menyebutkan bahwa pertemuan antara “A” dan “R” diduga bukan sekadar obrolan biasa, melainkan mengarah pada aktivitas mesum atau hubungan terlarang. Diduga, saat sedang berduaan, “A” mengalami syok berat atau serangan jantung mendadak (heart attack) akibat kelelahan fisik atau ketegangan emosional.
Melihat kondisi ‘inisial “A” yang tiba-tiba roboh dan tidak sadarkan diri, “R” yang panik segera lari mencari bantuan ke para pedagang di depan lapangan. Atas saran pedagang, “R” kemudian meminta bantuan ke kantor Koramil Prajurit Kulon.
Menanggapi laporan tersebut, seorang anggota Babinsa Koramil Prajurit Kulon segera meluncur ke lokasi. Saat tiba di titik koordinat yang ditunjuk, menemukan “A” sudah dalam keadaan tidak bernyawa.
Saat saya datang, kondisinya sudah terlambat. Almarhum sudah tidak ada nyawa. Kami hanya bisa mengamankan lokasi dan menunggu tim medis serta polisi,” ujar Anggota Koramil .
Kematian tragis ini memicu kritik keras dari warga terhadap pengelolaan Lapangan Surodinawan. Meski sering disebut sebagai kawasan steril , banyak warga mengeluhkan minimnya penerangan lampu di sudut-sudut tertentu. Kondisi gelap gulita tersebut dinilai memudahkan oknum untuk melakukan aktivitas asusila tanpa takut terlihat, yang justru berpotensi membahayakan keselamatan pengguna ruang publik, terutama bagi mereka yang memiliki riwayat penyakit.
Miris , Disebut steril tapi gelapan bikin orang bebas berbuat macam-macam. Sekarang malah ada yang tewas di sana. Pemerintah harus evaluasi lagi soal penerangan dan pengawasan malam hari,” kata salah satu warga setempat yang enggan disebutkan namanya.
Hingga berita ini diturunkan, jenazah inisial A telah dievakuasi ke RSUD dr. Wahidin Sudirohusodo untuk proses visum. Pihak kepolisian masih mendalami peran Risma dan memastikan apakah ada unsur kelalaian atau tindak pidana lainnya dalam kasus ini.
Red (Sunarmi)

